Sabtu, 11 Maret 2017

Tentang Atheis

Bukan.
Gw bukan lagi pengen menjabarkan mengenai atheis sebagai ideologi atau pemikiran, mengingat gw ini cuma sarjana sok pinter yang telat lulus dengan IPK rada cekak, jelas bukan kapasitas gw juga buat ngejelasin hal semacam demikian. Atheis yang gw maksud adalah film yang baru gw tonton hari ini (Sabtu, 11 Maret 2017) di Kineforum, Taman Ismail Marzuki. Hal ini berawal dari kondisi gw yang lagi suntuk banget, mau nulis tapi ide mampet. Liat timeline instagram (@tanfidz_t, barangkali ada yang mau follow, hehe), kok ada film yang kayaknya menarik. Setelah gagal mengajak beberapa teman, akhirnya gw pun berangkat nonton bersama penonton lain yang tampaknya banyak juga yang datang sendirian (maklum sih, mana film jadul, kayaknya banyak yang gak tau pula. Jadi ngerasa elitis nih, wkwkwk).

Poster Film Atheis, suangaar!

Minggu, 18 September 2016

Rupa Rupa Jakarta. Meski Hujan, Semangat Jalan Terus!

Jujur aja, gue emang bukan orang yang benar-benar aktif dan update dalam dunia stand up comedy. Gue baru beberapa kali nonton stand up comedy show dan open mic waktu kuliah yang menurut gue cukup bagus, tapi belum ada yang benar-benar membuat gue terkesan. Namun, gue baru dibuat takjub oleh pertunjukan stand up comedy David Nurbianto bertajuk Rupa Rupa Jakarta. Pertunjukan ini diadakan di Amplitheater Setu Babakan pada 17 September 2016. Pada awalnya, gue sempet ngedumel karena open gate lumayan ngaret. Pada poster publikasi tertera bahwa open gate dilaksanakan pada pukul 18.30. Namun, ternyata penonton baru bisa masuk area sekitar hampir pukul 20.00.

Nih, Poster Publikasinya.

Selasa, 16 Agustus 2016

Perayaan Cinta Om Kacamata

Beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan, di salah satu sudut kota Bandung. Tampak seorang gadis yang tengah gelisah bukan buatan. Malam itu, singgasana hati gadis berusia sembilas belas tahun ini amat kacau tak terkendali. Dahinya berkerut, tangannya memeluk bantal untuk menutupi wajahnya yang tampak gusar, tubuhnya bermandikan peluh meski cuaca malam di kota kembang itu cukup dingin. Dalam kegalauannya, tidak henti-hentinya dia meracau seraya bertanya pada dirinya sendiri.
“Rasa apa yang aku alami ini? Gembira yang meluap-luap melebur dan larut menjadi satu bersama ragu dan takut dalam waktu bersamaan. Duh Gusti, dosa apa aku hingga harus mengalami siksaan seperti ini.”
Yuke, demikian nama panggilan gadis manis itu. Secara mendadak, dia harus mengalami nestapa yang membuatnya benar-benar bingung bukan kepalang. Ibunya yang berada di ambang pintu mulai tidak sabar menunggu.
“Bagaimana?”
“Tapi Yuke takut, Mami.”

Minggu, 24 Juli 2016

Mencari Kopi di Bukit Menoreh


Perjalanan super selo ini bermula di suatu sore waktu gue lagi bosen-bosennya dengan rutinitas (baca : scrolling social media). Gak ada angin, gak ada ujan, tiba-tiba gue diajak main secara random sama temen di kampus lewat whatsapp. Karena emang lagi bosen, yaudah, gue ikut aja. Setelah diskusi soal destinasi tujuan barang sejenak, akhirnya pilihan jatuh (gak tau siapa yang jorogin) pada Kedai Kopi Pak Rohmat di Bukit Menoreh, Kulon Progo, setelah sebelumnya gue sempat debat dan rada ngotot buat pergi ke Krakatau biar bisa berburu Moltress.

Karena percaya bahwa waktu paling shahih untuk menikmati kopi adalah pagi hari, kami pun berangkat dengan penuh semangat dan keyakinan teguh (lebay, woi, lebay!) pada pukul 7 pagi dari kota Jogja. Sayangnya, perjalanan tidak semulus yang kami duga sebelumnya, gue sempat curiga kalo perjalanan punya masalah dengan jerawat, sip, garing. Ya, gak ada yang nyangka kalo kenikmatan segelas kopi harus ditebus lewat pertarungan penuh darah dengan para jago silat mematikan yang dijuluki Lidah Api Bukit Menoreh

Rabu, 22 Juni 2016

Betawi Bukan Sekedar Pitung dan Jampang

Tradisi maen pukulan memang telah mengakar erat dan menjadi bagian dari kehidupan orang Betawi sejak lama. Tidak heran, mengingat dari sekitar 600-800 aliran silat yang berada di seantero Nusantara, 317 di antaranya berasal dari tanah Betawi. Oleh karena itu, sudah merupakan kelaziman jika orang diminta menyebutkan tokoh dari Betawi, maka nama yang keluar adalah jago-jago silat seperti Pitung, Jampang, atau Entong Gendut. Padahal bila kita melihat sejarah perjalanan bangsa, orang Betawi pun sama seperti etnis lain. Minang misalnya, yang memiliki sederet tokoh pergerakan seperti Muhammad Hatta, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Buya Hamka. Tanah Betawi juga melahirkan sederet tokoh tersohor yang merupakan pahlawan nasional dari berbagai macam bidang seperti politik, seni, juga agama seperti Muhammad Husni Thamrin, Ismail Marzuki dan KH. Noer Ali.

Rabu, 04 Mei 2016

Bengkel Buya, Oase dalam Untaian Panel

Di masa orde lama, orang-orang tua dan aktivis di bidang pendidikan banyak yang menganggap komik sebagai biang keladi penyebab kerusakan moral anak muda. Mereka menolak dan berusaha agar komik tidak bisa lagi diterbitkan di Indonesia. Usaha mereka memang tidak sepenuhnya berhasil, namun, penerbitan komik sempat mengalami kesulitan karena setiap komik yang beredar harus mendapat izin berupa cap dari kepolisian.

Kini, meskipun masih ada orang-orang yang masih berpikiran seperti demikian, komik sudah bisa diterima oleh banyak kalangan. Hal ini mungkin terjadi karena semakin banyak komik yang dibuat dengan tujuan pendidikan seperti komik wayang dan mencapai puncaknya saat komik religi menguasai pasar kaum agamais pada periode 1990-an yang banyak dijual di serambi masjid atau madrasah. Komik religi dibuat dengan berbagai macam jenis cerita seperti komik surga-neraka, komik dongeng 1001 malam, dan komik tokoh-tokoh agama.

Senin, 18 April 2016

Lika-Liku Komik Indie : Selalu Menjadi Solusi Alternatif?


Bila menengok kondisi perkomikan lokal pada periode 1990-an, kita akan menemukan fakta bahwa komik lokal pernah melalui masa yang amat sulit. Kala itu, toko buku besar menjadi jalur distribusi yang difavoritkan pembeli buku. Oleh karenanya, tidak aneh bila menerbitkan komik lewat jalur penerbit, yang kemudian dijual lewat toko buku tersebut menjadi pilihan utama sebagian penulis. Sayangnya, dengan alasan lebih menguntungkan secara komersial, penerbit justru lebih tertarik menerbitkan komik Jepang terjemahan yang merupakan primadona di kalangan anak muda saat itu. Ketidakmampuan komik lokal bersaing dan menembus distribusi toko buku besar membuatnya tenggelam secara perlahan. Bahkan, taman bacaan yang biasa menjadi jalur distribusinya selama puluhan tahun pun menghilang satu demi satu.